Ketentuan Aturan Islam Ihwal Puasa

0
 Dalam Islam puasa merupakan bentuk ibadah yang berarti menahan diri dari acara makan Ketentuan Hukum Islam Tentang Puasa

– Dalam Islam puasa merupakan bentuk ibadah yang berarti menahan diri dari acara makan, minum maupun hal-hal lainnya yang sanggup membatalkan puasa, yang dimulai dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari dengan niat alasannya yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala. Fungsi dari puasa yaitu untuk merubah atau memperbaiki perilaku insan untuk tetap berjalan di arah yang baik dan benar. Dengan demikian, tujuan dari berpuasa yaitu untuk meraih ridho Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan takwa (percaya adanya Allah Subhanahu wa Ta’ala dan takut kepada-Nya).

Ibadah puasa mempunyai banyak manfaat, baik bagi jiwa maupun raga. Diantaranya ialah melatih diri dalam mengendalikan hawa nafsu, menghindari perbuatan maksiat maupun kasus jelek atau kotor dan perbuatan lainnya yang menjurus (menuju) ke hal yang tidak baik atau benar. Dengan berpuasa, insan akan merasa erat dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan dibutuhkan bisa membina jiwa serta keteguhan iman dari banyak sekali cobaan dan rintangan hidup, sehingga hati senantiasa higienis dari perbuatan tercela yang tentunya dihentikan dalam Islam (agama Allah).

Pembagian aturan puasa dalam Islam

Perlu kau ketahui bahwa puasa itu terbagi menjadi beberapa macam bagian, yaitu sebagai berikut.

  • Puasa Wajib, yakni puasa yang diwajibkan atas setiap umat muslim. Contohnya: puasa Ramadhan, puasa Qada, puasa Nazar dan puasa Kafarah (Denda). 
  • Puasa Sunnah, yakni puasa yang dianjurkan atau dicontohkan (biasa dilakukan) oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk dilakukan, yang apabila dikerjakan menerima pahala dan apabila ditinggalkan tidak menerima dosa. Contohnya: puasa Arafah (puasa yang dilakukan pada tanggal 9 Dzulhijah), puasa Asyura (puasa yang dilakukan pada tanggal 10 Muharram), puasa Senin dan Kamis, dan puasa 6 hari di bulan Syawal dan puasa Daud.
  • Puasa Haram, yakni puasa yang apabila ditinggalkan menerima pahala dan apabila dikerjakan menerima dosa. Contohnya: puasa pada hari Raya Idul Fitri (tanggal 1 Syawal), puasa pada hari Raya Idul Adha (tanggal 10 Dzulhijah), dan hari-hari tasyrik (tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijah).

Puasa wajib maupun puasa sunnah mempunyai ketentuan yang sama, yaitu keduanya sama-sama mempunyai syarat wajib, syarat sah, rukun, sunnah, dan hal-hal yang sanggup membatalkan puasa.

Syarat wajib puasa

  • Berakal sehat (dengan demikian orang absurd tidak wajib berpuasa). 
  • Balig (cukup umur).
  • Kuat atau bisa melakukan puasa.

Syarat sah puasa

  • Beragama Islam (dengan demikian non-muslim/orang yang bukan beragama Islam tidak akan sah puasanya). 
  • Mumayiz (dapat membedakan mana yang hak atau yang benar dan yang bathil atau yang salah).
  • Bagi perempuan harus suci dari haid (darah yang keluar dari rahim perempuan pada saat-saat tertentu yang merupakan bawaan alami perempuan yang telah ditakdirkan atau ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala) dan nifas (darah yang keluar dari rahim perempuan pada ketika sehabis melahirkan).
  • Pada waktu yang diperbolehkan atau ditentukan untuk berpuasa.

Rukun puasa

  • Niat alasannya yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala. 
  • Menahan diri dari segala yang sanggup membatalkan puasa mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari.

Sunnah-sunnah puasa

  • Menyegerakan berbuka kalau yakin bahwa matahari telah terbenam (sudah memasuki waktu azan maghrib). 
  • Berbuka dengan buah kurma atau makanan yang elok alami atau minum air putih (mineral) bila tidak ada buah kurma tersebut.
  • Berdo’a terlebih dahulu pada ketika akan berbuka puasa.
  • Makan sahur.
  • Mengakhirkan makan sahur.
  • Memberi makan kepada orang yang berbuka puasa.
  • Memperbanyak bederma jariyah.
  • Memperbanyak mambaca Al-Qur’an dan memahami artinya.
  • Memperbanyak ibadah-ibadah sunnah yang lain.

Hal-hal yang sanggup membatalkan puasa

  • Makan maupun minum dengan disengaja.
  • Muntah dengan disengaja.
  • Berubah nalar (misalnya gila, mabuk dan pingsan).
  • Berhubungan suami-istri (intim).
  • Murtad (keluar dari agama Islam). 
  • Keluar darah haid atau nifas bagi wanita.

Nah, itulah artikel wacana “Ketentuan Hukum Islam Tentang Puasa”. Apabila terdapat kesalahan dalam penulisan, mohon maaf. Jika ada kritik, saran maupun hal-hal lainnya, bisa menghubungi Admin di sajian yang telah tersedia 🙂 Semoga artikel ini bermanfaat dan bisa membawa imbas yang baik. Wallahu a’lam bisshawab

“Gambar dan isi goresan pena di dalam postingan ini diambil dan diperbaharui dari banyak sekali sumber, mohon maaf apabila terdapat kesalahan, baik itu maksud dari isi postingan ini atau kesalahan apapun. Bijaklah dan selalu berguru untuk mengambil sisi positifnya ya sob!”

Kata kunci terkait pada artikel ini:

Hukum dan ketentuan puasa di dalam Islam

Leave A Reply

Your email address will not be published.